Empat [04]
Episode terakhir dari Drama Persembahan Dini Hari ku lunaskan hari ini.. setelah lelah penat lunglai selimuti tubuh letih ini… sekedar ucap kata “SELAMAT TINGGAL KAWAN..” rasanya cukup pantas, bila tidak mau dikatakan plin-plan dalam mengambil keputusan hidup. Yap.. setelah sekian tempo sudah ku dihadapkan dengan kata “tunda..”… MAAF, ATAS NAMA PENGALAMAN.. ku beranikan diri untuk beranjak-beringsut-bertekad tanpa harus menoleh ke belakang.. kita harus sudahi semua peran yang sudah kita lakoni, kawan. Skenario baru sudah menanti untuk segera dimainkan, peran baru sudah tidak mungkin lagi ditunda barang sejenak.. kita ngga’ bisa lagi se-subyektif dulu, bung!
…
Semula aku masih percaya diri untuk meneruskan perjalanan di sini.. tapi tidak untuk hari ini, sekali-kali tidak, setelah begitu banyak serpih-serpih momen yang ku hela dengan nafas panjang. Ngga’ ada intervensi, ngga’ ada paksaan.. semua berlaku wajar saja. aku jenuh dengan rutinitas perubahan yang terjadi di sini… itu saja titik.
Tidak ada yang salah… bagiku semua berjalan wajar. Dan memang itulah realita sesungguhnya panggung drama kita di sini. Jadi tunggu apalagi.. aku yang menyingkir atau berdamai dengan realita semu.. sekali lagi, sayangnya aku lebih memilih yang paling menyakitkan.. karena dengan sakit ku aku bisa lebih merdeka, bebas dan terbuka dengan realita, bung!
…
BIKIN HIDUP LEBIH HIDUP… bagus juga tuh, aku sepakat. Kesabaran seperti matahari dan kesetiaan adalah rembulan… perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. MUNAFIK bisa jadi topeng berikutnya dan akhirnya SEKALI BERARTI SESUDAH ITU MATI…kasihan sekali!
[monolog selesai……]
TAMAT
Dirampungkan di Purwokerto, medio Juli 2002 pk.01:23:45 wib
drama persembahan dini hari [04]
drama persembahan dini hari [03]
Tiga [03]
Pertemuan kembali dengan teman lama kadang bisa menguatkan ingatan kita. Apalagi banyak memori yang melekat dalam peristiwa-peristiwa ketika masih berjalan, berproses dan bertumbuh kembang bersama… canda-tawa, tangis-sedih, ceria-gembira, kesal-sakit hati..berbaur dengan kilas balik cerita panjang kehidupan lama kita. Dari banyak pengalaman yang tersaji..sebuah pertemuan kembali membawa kesan yang begitu dalam. Rasanya lebih indah kalau pertemuan itu sesekali tidak berhenti pada satu kali pertemuan…pastinya ada banyak yang ingin diceritakan kepada dia atau mereka yang lama berpisah dengan kita.
Sebuah pengalaman menarik ku alami yang rupanya juga dialami oleh kawan-kawan di sini… setelah kurun waktu setahun lamanya aku sama sekali tak dengar kabar berita tentang seseorang yang pernah bergulat bersama menjalin relasi yang cukup intim…tiba-tiba hadir di depan mata. Kaget, heran..lho, kok bisa? Selanjutnya adalah percakapan singkat tanya sana-sini tentang kabar terakhir…dan satu hal ada yang berubah memang… secara fisik iya, diam sejenak adalah berikutnya.. habis setahun bung! Undangan singkat untuk datang ke rumah pun jadi pesan berikutnya. Banyak yang sebenarnya ingin ku obrolkan bersamanya..berhubung terbatasnya ruang dan waktu ku tunda untuk pertemuan selanjutnya sembari berharap bisa menikmati hal ini cukup lama. Lucunya, ketika ini kusuarakan kepada salah seorang kawan, kebetulan dia lebih lama mengenal kawan ku yang kuceritakan tadi, semakin banyak cerita masa lalu yang terungkap. Mulai dari kisah cintanya hingga masa-masa menjelang perpisahan yang cukup mengharukan…dua tiga hari ngga’ cukup untuk mengobati kerinduan yang begitu dalam untuk segera bertemu muka dengan dia.
Aku teringat pada kata-kata yang tertera di sebuah surat kawan ku…
The old friends is gold..
The new one is silver…
but you are the friends I will cherish
Singkatnya, sebuah pertemuan kembali entah secara langsung maupun hanya lewat tulisan, foto album, telpon atau yang lebih modern via e-mail atau short message services (sms) selalu membawa ingatan masa lalu yang indah bahkan yang traumatik sekalipun. Begitu berharganya komunikasi singkat dengan relasi lama terkadang harus dibayar mahal dengan realita bahwa kita ngga’ akan selamanya bersama. Kawan kita semasa kecil, kawan kita selama sekolah hingga kawan kita selama memasuki usia dewasa tidak sedikit menyita perhatian dalam keseharian. Selalu ada pertanyaan, bagaimana kabar dia di sana… apa masih seperti dulu, dan kadang kita begitu egoisnya sampai-sampai perubahan sekecil apapun selalu jadi pertanyaan besar. Lho kok kamu ngga’ kayak dulu sih?
Aku kembali cuma bisa tersenyum, kadang pahit, ketika harus dalam kondisi kesendirian… di tempat yang baru, di komunitas yang baru, di waktu yang baru… itulah yang membuatku selalu merasa berat untuk hadir dalam setiap seremonial pelepasan atau perpisahan atau apapun namanya. Tanpa harus masuk dalam keharu-biruan, cerita sedih dan cenderung cengeng.. aku lebih memilih jalan biarkan aja semua mengalir… buat apa ditambah-tambahi… nanti malah bikin kita ngga’ bisa menerima kenyataan bahwa kita harus pergi meninggalkan semua yang pernah berproses bersama. Bisa dibayangkan betapa protektifnya orang tua kita kalau selalu takut akan kepergian anaknya keluar bahkan sekedar sejenak saja dari rumah. Dan itulah mengapa budaya Jawa sebagai contoh, menyediakan ruang privat bagi pertemuan dan perpisahan via sungkeman. Artinya, lepas dari sekedar seremonialnya, sungkeman atau dalam budaya Barat hug and kiss, menemukan momentum privatnya sebagai bentuk komunikasi terintim yang pernah ada di boemimanusia ini. Selain jabat erat dan salam yang selalu menjadi kata kunci pertemuan kita sehari-hari.
Maka hargailah setiap pertemuan dan hubungan relasi yang ada…untuk tidak sekedar menjadi catatan lepas tak berbekas. Sekecil apapun pengalaman privat yang kita alami bersama orang lain termasuk orang terdekat selayaknya ditempatkan pada ruang yang bebas…bebas dari segala tafsir dan intervensi subyektif tentangnya. Toh, nantinya seluruh pengalaman privat tersebut bisa jadi hiburan tersendiri kelak setelah usia merambat seiring memutihnya helai rambut di kepala. Bayangkan bagaimana rasanya orang yang ditinggalkan kerabat dekatnya karena sebuah kematian.. butuh berapa lama untuk menerima kenyataan yang biasanya dibilang pahit oleh orang yang merasakan…
Ku pikir kita ngga’ melulu terjebak dalam kesedihan..jika kita yakin bahwa ALAM PUNYA JALANNYA SENDIRI..untuk hal-hal semacam tadi.
SELAMAT DATANG DI BOEMIMANUSIA DAN AKU PUN HARUS PERGI…, KAWAN !!!
drama persembahan dini hari [02]
Doewa [02]
Ku mulai semua ini dengan lembar surat yang ku kirimkan sebagai balasan surat mu sebelumnya…
Dan sebuah cerita pun beranjak mula dari sini………
Subject: Re: semua berpulang pada hari ini…
Date sent: Fri, 12 Jul 2002 03:58:28 +0700
semoga benar aku menjumpai seorang kawan…
…
kedatangan ku di kota mu..dengan terpaksa ku tunda hingga minggu depan. hari ini, Jum’at jam 15.00 arek-arek teater DUKCEK (e-mail nya : belajar_bersama@sekaligus.com) kumpul dilanjut jam 18.00 berlatih koor bersama Rudi.
kepulangan mu banyak meninggalkan pertanyaan.. bagiku itu biasa dan sangat wajar. hanya harus kau akui.. kita jalani saja kemarau yg panjang ini… menyisakan pertanyaan besar yang harus kau jawab sendiri, utamanya pada seorang kawan mu yang mungkin sekali menantang bicara pada mu. resiko mu, bung… hal yang sama ku alami dengan berita hari ini: “Aku harus pergi…”
bincang-bincang di alun-alun selatan? oke juga… kabar pasti ku kirim hari senen.. sebelum ku berubah pikir untuk secepatnya pergi dari kota tempat ku bergulat paksa dengan realita..
…
kau masih percaya privasi? bisa jadi privasi paling sempurna adalah MIMPI – ANGAN – HARAPAN – KEINGINAN yang selalu ideal seturut subyektivitas “aku”… selebihnya kumpulan normatif dan ide-ide utopis kebebasan individu. ku pikir RAHASIA justru tidak lagi jadi jaminan sebuah privasi. manusia… bung!
bandingkan dengan hewan atau mahluk hidup lain di luar manusia… LEBIH JUJUR MANA? otak kita penuh dijejali konsep+ide tentang keterbukaan dan kebebasan individu tanpa tahu didalamnya bom waktu sedia dan siap menghunus pedangnya untuk sekedar membuai kita atas nama KEBEBASAN INDIVIDU (apa bedanya INDIVIDU dengan PRIVAT?) artinya, aku sudah tidak percaya lagi apapun tentang Privasi dan segala macamnya… JIKA sekali lagi kalau pada kenyataannya : PRIVASI = KANTONG PERSEMBUNYIAN. maksudku… kita ngga’ berani membuka diri bahwa inilah AKU tanpa baju, tanpa takut ditinggalkan kawan, tanpa takut kehilangan… sementara PRIVASI = KOMODITAS GAUL juga menyergap sebagian dari kawan kita. tuh khan… percaya ama tatanan kacau gini… budayanya ya, gitu itu!!
…
lantas apa yang mo’ ku sampaikan ya simple aja… like or dislike apapun yang udah terjadi kemaren… ya bukan barang privat lagi donk… alias itu udah lewat, kenapa harus ditutupi.. meanwhile… apa yang terjadi saat ini ya, itulah AKU saat ini… JUJUR aja pada diri sendiri. manusia emang belum bisa berubah… pesimis..? ngga’ ah, realistis aja. let there be life…!!
MUTUNG? childish banget… btw, natural bukan berarti gampang dibohongi lho ya…. INGAT !
lengkapnya cerita ku.. nanti via e-mail ku.. salam buat manusia di kota mu…(yang bukan manusia… boleh juga kau sapa)
/ d h a — <fight4freedom@altavista.co.uk>
jangan jadi orang kedua setelah dirimu sendiri…
Namanya juga manusia.. sekedar apologi mungkin, kita emang sering memaklumkan sebuah pembenaran atas apa yang kita lakukan. Dan ku pikir itu alamiah, walaupun menyakitkan. Aku ada pengalaman menarik dan bisa jadi ini kita jadikan diskusi bersama yang saling menguatkan…
Sore ini komunitas teater dukcek jadi melaksanakan perhelatannya untuk sekedar berbincang dan berproses bersama, yang datang kalo mo’ disebut ya.. inoe, mekar, ine, tari, catur, manda, icak, rudi, asti, budi, blendonk, bowie, lita dan aku sendiri…
Hanya sedikit bicara serius yang intinya kita emang sepakat bikin jadwal latihan tiap kamis sore. Dan untuk permulaan ada beberapa naskah yang akan kita cobakan untuk berlatih..sekaligus memperdalamnya via modul workshop teater dari inoe sendiri.. SEMANGAT, itu yang jadi spirit awal kawan-kawan disini untuk lebih maju. Aku salut pada inoe + his fame. Ada secercah harap dari perbincangan tadi sore… terutama aku tertarik pada kepolosan tari yang berkeinginan untuk masuk isi jokja jurusan teater. Lepas dari perbincangan ringan sore itu… aku dan asti masuk ke kamar kerja sekre mudika untuk sekedar obrol ringan semi serius dan membaca beberapa e-mail yang masuk ke folder kita… sembari membuka lembar surat yang dikirimkan oleh malaikat kita dari semarang (nanti akan kutunjukkan pada mu di kotamu)… “ ternyata dia belum bisa merubah sikap ya…” ujar asti padaku menanggapi surat thomas. Dan pertanyaan yang sama keluar juga pada akhirnya ketika membaca suratku untukmu… “kapan aku ke jokja..” asti bilang sudah banyak sebenarnya perubahan yang bisa kita alami sekarang… hanya saja ada beberapa bagian yang lepas, bagian yang sebenarnya bisa jadi mampu untuk lebih dari sekedar menguatkan gerak laju pertumbuhan kedewasaan kita bersama… ada kegetiran yang menyelinap dalam setiap komentarnya.. dan ini yang membuatku semakin mengerti kenapa hal yang sama aku rasakan ketika untuk beberapa saat aku menemani adiknya inoe dan icak… tiga hari aku bersama inoe berputar keliling purwokerto dan banyumas layaknya dua orang debt collector tagih sana-sini… ada banyak cerita yang terungkap sekaligus meyakinkan kami berdua bahwa untuk sekedar memulai sebuah proses butuh keluangan waktu dan kesabaran yang begitu besar menghadapi segala macam tafsir gerak dan lakon yang kami sandang saat ini. Aku merasakan pengalaman dejavu yang kesekian kalinya… saat inoe berbicara panjang lebar sembari berkonsentrasi di atas kendaraan roda dua yang menghantarku bersamanya menuju rumah dan toko tempat sasaran tagihan arisan..
Hal yang sama ku alami bersama asti sore tadi…
Sementara waktu terus menggelinding… kawan-kawan lain berlatih koor.. jule datang dengan sangat tergesa mendesakku untuk membuka folder e-mail yang menyangkut dirinya… lagi-lagi kecurigaan yang besar ada pada dirinya, sampai-sampai harus bolak-balik buka tutup e-mail yang ada.. takut ketauan orang lain yang tiba-tiba datang… hah, apalagi ini… sembari cerita yang terus mengalir tentang kekesalannya pada pengalaman privat yang dialaminya.. ada saja kejadian tak terduga yang muncul… kok, jadi paranoid gitu sih… intinya seakan privasi jadi hal yang sangat menggurita dihidupnya sampai-sampai harus butuh waktu khusus untuk sekedar mengungkap kekesalan karena beberapa hari ini dia ngalamin kebingungan…mulai dari kiriman e-mail aneh sampai pandangannya soal privasi dan relasi… “aku masih bisa mempercayaimu khan ya…” itu yang keluar dari mulutnya kesekian kali setelah semalam kemaren aku menghubunginya via telpon..
Kusempatkan juga untuk bicara tentang hal tadi ketika aku diminta tolong oleh eq.. beli roti bakar untuk kawan-kawan yang berlatih koor… dengan siapa…kau pastinya tidak akan pernah menyangka kalo dia itu kawan kita yang paling cuek bicara tentang hal semacam ini … kau kenal si peth khan…
Ternyata dia pun lebih dari sekedar tanggap atas apa yang terjadi selama ini bung!… ya, ada keasyikan tersendiri ternyata punya beberapa kawan yang cukup punya kegilaan.. ku katakan kegilaan karena kau juga pernah mengatakannya di warung mie ayam selepas kita berjumpa dengan oneng waktu yang silam. Sesekali boleh juga kok.. Dan, kita melepas segala kepenatan dan kegusaran dengan menghancurkan sekaligus seluruh ide dan pikiran kita tentang perubahan… sesekali pesimisme ternyata mampu sekedar menjadi candu yang melegakan…
…
ada banyak hal yang ingin ku ungkap dan pastinya akan banyak lembar percuma yang harus ku terakan dengan ketikan panjang tentang semua kegelisahan ini… hanya saja itu ngga’ cukup mengobati kerinduan ku yang teramat sangat untuk segera pergi dari kota kita yang tercinta dan melepas obrolan di kota mu.
Aku pasti ke sini (kota mu) secepatnya… setelah ku selesaikan urusan kampusku yang kulupakan dengan sengaja beberapa hari ini… kalo ngga’ ada aral sekitar hari selasa aku sudah bisa meluncur ke kotamu… jadi, ku tunggu kabar darimu tentang agenda minggu depan yang mungkin bisa jadi membutuhkan kehadiranmu…
…manoesiapagi
ta’ lampirkan juga ini… coba kau perhatikan deh, Dan. Mestinya kau tau siapa yg mbuat…
“Katanya sudah besar, tapi kok……”
Itu khan hanya katanya . Kata orang orang yang bisanya cuma maido . Huh njengkelin. Kulakukan apa saja sesukaku, biar orang lain tambah maido. Biarin aje.
Ngga asyik… Ngga asyik…… Ngga asyik……
Biarin…..biarin……..biarin………. Biarin aje
Biarin orang mau bilang apa. Gue ya gue. Orang bisa kaget dengan aku yang seperti ini. Yah.. kita hidup dalam proses. Yah, hidup ini sebuah proses yang akan berakhir saat kita mati. tApi katanya, setelah maati itu ada hidup yang lainya lho!! Ah, itu hanya kepercayaan. Katanya hidup merupakan proyeksi dari apa yang aada dalam pikiran kita. Begitu juga dengan kepercayan yang kita percaya banget. Ah ngga mau mikir berat-berat ach. Ngga asyik.
Eh.. tiba-tiba banyak. Sttttt selingan.
Eh, aku sudah dewasaa apa belum si? Kayaknya, orang orang begitu melihat aku yang …. Seperti emmm. Rasaanya , saat aku bercermin dalam imajinasiku, aku adalah manusia yang masih jauh dari BAIK. Ihhhh jeleeeek banget.. aku seumur-umur nggak pernah merasa jadi baik. Tapi aku pernah merasa bahagia banget. Saat aku tahu ada orang lain yang melihat bahwa aku ada.
Wah tulisannya kok jadi ngglambyar ndak karuan . biarin..biarin..biarin. Cuek aja lagi. Lanjjjjuuuuuuuctttthhh.
Ach.. udah cape, udah malem lagi. Besok atau lain kesempatan disambung lagi.
Salam pembebasan
Wong kesasar
drama persembahan dini hari [01]
Satoe [01]
Aku hari ini kalah bertaruh… apa yang ku lihat berbeda dari yang ku pikirkan. Ku pikir semua sudah buka mata – buka telinga – buka hati; eh.. ternyata salah besar…
Yang ku tangkap lewat telinga ku grenengan-grenengan.. gosip-gosip.. dan ucapan-ucapan agak berbau subversif… katakan sesuatu deh, pasti kita sendiri tertawa lebar melihat kenyataan di sini, di rumah kita sendiri.
Aku ini sebenarnya siapa sih.. kok jadi misah-misuh di sini. Lho, salah siapa.. wong ngga’ ada yang ngelarang kok. Tapi aku khan orang luar.. ya, percuma donk?
Biarin aja.. toh selama ini pun emang ngga’ ada pengaruhnya khan. Mo’ ambil jalan nyantai, serius..or super cuek ama keadaan? Bebas aja… namanya juga kumpulan gosip dan grenengan; ngga’ heran.. tradisinya emang disini terbiasa apa-apa ndadak, grusa-grusu, sradak-sruduk… ngapain munafik? Paling banter siapa pun yang nyoba mbangun komunitas di sini siap-siap ambil ancang-ancang: ndablegh..atau mundur teratur!!! Kasihan sekali….
sudahi dulu deh, berprasangka…(itu kalo masih mo’ sembuh!) kurang kerjaan amat ngurusin gawean orang lain sementara bisanya cuma kritik, hah… penat amat. Tepatnya picik banget tuh orang… (jangan marah, bung!—kalo masih mo’ dianggep manusia..) aku sih bisa aja sekarang mbongkar borok semua yang ada disini… cuma buat apa? Wong nyatanya, dari yang paling punya legitimasi sampe pegiat kesiangan juga cuma bisa ngomong… ayo donk, konkritkan pikiran kalian. Apa sih yang mbikin kalian merasa rugi? Paling khan pasarannya anjlog… buat apa umur tambah kalo cuma bisa jago kandang!!! Pace..kata orang Banyumas, hah… wong Banyumas jarene cablaka, eh.. ngga’ taunya pecundang—pengecut–jago kandang–reyang thok—the LOOSER lah!!!!!
Ngga’ usah banyak komentar apalagi menghina…”Tong Kosong Nyaring Bunyinya” [Slank]. Yap.. bener juga tuh! Kita ngga’ pernah sedari awal menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Semua serba instan… tanpa “proses” dan berlindung di balik ‘proses’. Kritik dibangun atas dasar like and dislike..wah, gimana tuh? Apa yang bisa kita ambil donk, kalo gitu-gitu aja? Atau memang inilah jalan terbaik dari kesekian kali coba-coba tanpa evaluasi atas perjalanan panjang satu hari?
Semoga dan selalu hanya ada kata semoga… selebihnya ya cuma berharap dan berharap? Ah… sudahlah!
…manoesiapagi
Budaya Materi [Antariksa]
Budaya Materi
Oleh Antariksa
Apa makna benda-benda bagi manusia? Baik dari sudut pandang masyarakat tradisional maupun masyarakat modern pertanyaan ini bisa dijawab dengan dua hal, yang merupakan pokok kajian budaya materi (budaya pemanfaatan benda-benda oleh manusia, bagaimana manusia berhubungan dengan benda).
pertama, benda-benda bisa diletakkan dalam perspektif fungsional saja. Dalam perspektif ini sebuah piring berfungsi sebagai wadah makanan, senjata berfungsi sebagai alat berburu dan mempertahankan diri terhadap serangan musuh, sepatu berfungsi sebagai pelindung kaki dsb. Fenomena peradagangan/ekonomi juga masih termasuk dalam perspektif ini. Yang kedua, benda-benda bisa juga diletakkan dalam perspektifnya sebagai totem, yaitu diasosiakan secara simbolik dengan sesuatu yang lain. Di sini benda-benda berperan sebagai pembawa maknamakna sosial tertentu. Cincin misalnya, yang tak terlalu penting dalam perspektif fungsional, dalam perspektif totem bisa bermakna kecantikan, kekayaan, atau ikatan kesetiaan dsb. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa benda-benda, seperti diteorisikan Mary Douglas (antropolog) dan Baron Isherwood (ekonom) (1979), mampu mengkongkretkan makna-makna sosial yang abstrak seperti kesetiaan, kepatuhan, dsb.
Menurut Douglas dan Isherwood konsumsi benda-benda yang terjadi dalam semua masyarakat adalah juga di luar perdagangan, ia selalu merupakan sebuah fenomena kebudayaan, selalu berkaitan dengan nilai-nilai, makna-makna, dan komunikasi. Benda-benda bukan hanya dipakai untuk melakukan sesuatu, melainkan juga punya makna dan bertindak sebagai tanda makna dalam hubungan sosial, selalu memamerkan seperangkat nilai tertentu. Hal ini juga berarti bahwa dalam sirkulasi benda-benda telah terjadi sebuah pertukaran simbolik.
Douglas dan Isherwood secara khusus menyelidiki upacara-upacara, baik dalam masyarakat tradisional maupun modern, yang menurut mereka berfungsi sebagai tempat untuk penciptaan makna benda-benda dengan cara memperlihatkan kegunannya dalam upacara. Karena upacara-upacara merupakan acuan klasifikasi seseorang dalam masyarakat, maka benda-benda secara langsung berperan sebagai sumber identitas sosial dan pembawa makna sosial.
Marshal Sahlins (1976) mengembangkan konsep totemisme ini untuk menyelidiki konsumsi bendab-enda dalam masyarakat modern. Menurutnya, jika masyarakat tradisional menggunakana benda-benda ‘alamiah’ (kayu, batu, tulang dsb.) sebagai totem, maka totem masyarakat modern adalah benda-benda buatan pabrik. Ia menunjukkan bagaimana sistem pakaian masyarakat modern bukan sekedar seperangkat objek materi untuk membuat hangat tubuh dsb., tetapi sebagai kode simbolik untuk mengkomunikasikan keanggotaan dalam suatu kelompok sosial (priawanita, kelas ataskelas bawah dsb.). Lewat pakaian masyarakat modern mengkomunikasikan keanggunan perempuan, keperkasaan lakilaki, dan kehalusan kelas bangsawan.
McCracken (1988) juga mengidentifikasi pemanfaatan benda-benda konsumen dalam ritual-ritual masyarakat kontemporer. Ia mengajukan beberapa ritual masyarakat kontemporer paling penting. Pertama, ‘upacara pemberkatan’, yang meliputi pengumpulan, pembersihan, perbandingan, dan pertunjukkan benda-benda.
Dekorasi kamar tidur dengan poster-poster. Upacara ini memungkinkan pemiliknya mengklaim hak atas makna sebuah objek di luar batas kepemilikan biasa. Ini merupakan cara mempersonalisasikan objek, cara memindahkan makna dari dunia individu kepada benda yang baru diperoleh. Ia mencontohkan upacara hadiah, misalnya pada hari ulang tahun, hari natal, atau hari kasih sayang. Pemilihan dan pemberian benda-benda konsumen oeh seseorang dan diberikan kepada orang lain merupakan sebuah perpindahan makna. Seringkali sebuah benda dipilih sebagai hadiah karena benda tersebut memiliki makna kepemilikan yang penuh yang ingin diberikan kepada orang lain. Misalnya, seorang perempuan yang menerima sebuah pakaian diundang untuk mendefinisikan dirinya menurut makna gayanya; pemberi bunga atau coklat mungkin meminta penerimanya untuk menunjukkan sifat kelembutan atau sifat yang manis. Dari perspketif ini, pemberian benda-benda pada suatu upacara (hari ulang tahu, hari raya dsb.) dapat dipandang sebagai sarana yang paling tepat dalam komunikasi antarpribadi atau pengaruh antarpribadi.
Budaya materi, dalam pandangan Marx, adalah objektifikasi kesadaran sosial. Ini berawal dari distingsi Marx antara produksi yang bermanfaat langsung bagi pembuatnya dengan produksi yang semata-mata untuk kepentingan pasar. Proses yang terakhir inilah yang disebut Marx benda sebagai komoditas. Meskipun tak mengalami bentuk-bentuk budaya materi modern, ia kemudian sampai pada konsep fetishisme komoditas yang menggambarkan penyembunyian cerita tentang siapa dan bagaimana sebuah objek dibuat.
Dalam fetishisme modern, kegunaan benda-benda didistorsi secara sistematis oleh pencarian keuntungan kapitalis. Dan jelas bahwa kebutuhan untuk mencari untung ini telah secara dramatis melahirkan benda-benda baru yang dijual hanya untuk memanipulasi konsumen.
Theodore W. Adorno (1974), penginterpretasi Marx dari Kelompok Frankfurt yang dihormati, mengintrodusir knsep nilai guna sekunder. Konsep ini menunjukkan fenomen konsumsi dalam masyarakat inddustri dimana melalui kemasan, promosi dan iklan, benda-benda dicocokkan dengan topeng-topeng yang didesain secara ekspresif untuk memanipulasi hubungan yang mungkin terjadi antara benda-benda pada satu sisi serta keinginginan, kebutuhan dan emosi manusia di sisi lain. Nilai guna sekunder berjalan begitu dominasi nilai tukar telah diatur untuk menghapus ingatan mengenai nilai guna murni benda-benda. Ini adalah dasar bagi estetika komoditas, dimana komoditas berperan bebas dalam asosiasi dan ilusi budaya yang sangat luas. Iklan secara khusus mampu mengeksploitasi kebebasan ini untuk menampilkan citra romantis, eksotik, kepuaasan, atau kehidupan yang baik dengan memperkenalkan barang-barang konsumen seperti sabun, mesin cuci, mobildan minuman beralkohol. Ini persis dengan yang dikatakan Douglas dan Isherwood tentang kemampuan benda-benda untuk mengkonkretkan maknamakna sosial yang abstrak, tetapi dalam hal ini Adorno mampu menunjukkan peran media massa modern dalam proses pengkongkretan ini.
Sejalan dengan langkah Adorno, Celia Lury (1996) menunjukkan bahwa kelemahan studi budaya materi seperti yang dilakukan Douglas dan Isherwood adalah bahwa mereka hanya memperlakukan benda-benda sebagai media nonverbal untuk kemampuan kreatif manusia. Mereka gagal untuk secara meyakinkan mengkaji isuisu mengenai kekuatan dan kontrol simbolik.
Arjun Appadurai (1986) mempercanggih metodologi Douglas dan Isherwood dengan secara langsung memusatkan kajiannya pada ‘kehidupan sosial benda-benda’. Ia menyatakan bahwa benda-benda bukan hanya bersifat sosial dan budaya semata, melainkan benda-benda itu mempunyai kehidupan: bobot dan otoritas benda dapat dipaksakan dalam kehidupan manusia, karena memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keyakinan, memberi kewajiban, penampilan, dan kesenangan.
Walaupun dari sudut teoritis manusia sebagai pelaku menandai benda-benda dengan sebuah arti, namun dari sudut metodologis pergerakan bendalah yang meghiasi konteks sosial dan kemanusiaan mereka.
Secara agak mengejutkan, benda-benda dikajinya secara naratif, dituturkan sebagai kisah dengan sarana ’sejarah kehidupannya’. Pendeknya ia menelusuri narasi benda-benda dan jalur lintasannya: darimana benda berasal, siapa pembuatnya, apa gunanya, berapa ‘umur’ atau ‘periode kehidupan’ benda tersebut, apa ciriciri budaya untuknya, bagiamana kegunaan benda berubah sesuai umurnya dsb.
Contoh yang bagus untuk pendekatan model Appadurai ini adalah studi Dick Hebdige tentang “siklus skuter Itali” (1988). Hebdige menyelediki apa yang disebutnya dengan ‘kepentingan budaya’ sebuah objek. Kepentingan ini digali dengan menelusuri perubahan arah yang dialmpaui dalam sirkuasi benda-benda.
Strategi studinya adalah dengan mengikuti fluktuasi makna sosial skuter dan kemudian menarasikannya; Hebdige menunjukkan. bahwa skuter yang mula diasosiakan dengan status sosial yang rendah karena bentuknya yang mirip mainan anak-anak , kemudian melonjak menjadi objek yang dipuja karena diasosiakan dengan kenecisan dan modern pada awal ‘60an, dan kemudian status skuter yang sekarang adalah sebagai benda nostalgia. Pada awal peluncurannya, skuter didefinisikan sebagai ‘perempuan’, ia dianggap sebagai kendaraan lakilaki. Dan sebagai perempuan, skuter dihidupkan dalam harapan mengenai ‘perkawinan’.
Pabrik-pabrik motor di Inggris, yang terkenal dengan ‘kelelakiannya’ kemudian dipaksa memproduksi skuter, sebuah kendaran yang lebih ‘feminin’ dan ‘ramping’. Pada awal kemunculannya di Inggris, dengan dalih “referensi maskulinitas dan keperkasaan”, skuter secara moral bahkan dicurigai sebagai anti etos kerja keras.
Tetapi kemudian ‘perkawinan’ antara sepeda motor dan skuter berlangsung juga.
Hebdige mencontohkan bahwa pada tahun ‘50-an skuter adalah ancaman terbesar bagi industri sepeda motor Inggris; dalam sebuah pameran 3 sepeda motor harus bersaing dengan 50 skuter. Skuter kemudian menjalani hidup baru setelah ‘percerainnya’ dengan sepeda motor. “Keitalian” sebuah skuter menjadi penting, dan kefisienan desainnya menjadi simbol objek masa depan. Keriangan kehidupan baru skuter ini kemudian berubah sejak pertemuannya dengan klub-klub pecinta skuter dan balap skuter. Pertemuan ini ini membawa skuter kepada identitas sebuah subkultur tertentu.
Dan di masa-masa akhir hidupnya, dengan hadirnya sekolah-sekolah desain produk modern, kesempurnaan desain skuter didramatisir dan menjadi ajang estetikasi kehidupan sehari-hari. Kejayaan skuter akhirnya benar-benar runtuh karena munculnya sepeda motor-sepeda motor kecil buatan Jepang, juga karena kewajiban memakai helm yang membuat naik skuter tak setrendi pada masa-masa sebelumnya.
Newsletter KUNCI No. 4, Maret 2000
selamat datang di selasar-ku…
kita menikmati kehangatan karena kita pernah kedinginan
kita menghargai cahaya karena kita pernah dalam kegelapan
maka kita dapat bergembira karena kita pernah merasakan kesedihan
…
pengalaman pembelajaran. berbagi cerita soal kehidupan, berbagi pikiran soal pergulatan, berbagi pengetahuan soal kebenaran. bisa jadi subyektif dan jauh dari obyektif. tak jadi soal.
bagiku every place has its own story.. yap, setiap tempat –ruang dan waktu- punya ceritanya sendiri.
CARPE DIEM… ini baru awalan. POD said “everyday is a new day!”
…
| dhamar-sas